Momen mendekati lebaran kayak gini tuh biasanya menjadi ajang untuk membersihkan rumah secara menyeluruh. Bagiku, ini sekalian dengan momentum untuk mulai menjalankan rencana hidup minimalis ala orang Jepang yang selama ini selalu kugaungkan.
Rasanya sumpek saja gitu lho. Melihat kondisi rumahku, khususnya kamarku yang memang jadi comfort zone bagiku.
Bukan karena kondisinya yang berantakan sih. Lebih karena sudah terlalu banyak barang yang tertata.
Coba deh Sobat Flora bayangin! Lemariku tuh penuh dengan baju-baju yang jarang kupakai. You knowlah! Kalau sudah punya baju yang nyaman ya baju itu-itu saja yang kupakai.
Belum lagi rak yang penuh sama barang-barang yang kubeli hanya karena alasan lucu dan lagi diskon.
Padahal, barang-barang itu nggak kupakai sama sekali. Seringnya malah mengundang omelan mamaku karena kesannya jadi kayak buang-buang duit saja.
Karena sudah merasa sumpek berada di dalam rumah sendiri, makanya aku tertarik untuk mengikuti konsep gaya hidup minimalis ala orang Jepang gitu deh.
Mulai tuh, aku cari-cari informasi tentang metode merapikan rumah ala Marie Kondo dari artikel dan video.
Eh lha kok semakin kubaca dan coba pahami, aku makin merasa kalau minimalisme Jepang tuh bukan cuma sekadar soal merapikan rumah doang. Tapi, lebih ke gimana cara mereka memandang hidup.
Gimana? Apa Sobat Flora tertarik menjalankan konsep hidup minimalisnya orang Jepang? Kuylah kita sama-sama belajar!
Apa Itu Hidup Minimalis ala Orang Jepang?
Ini nih yang sering disalah-artikan. Banyak orang mengira kalau minimalisme berarti hidup serba sedikit.
Bisa dibilang, rumah hampir kosong karena minimnya barang. Pokoknya, hidup ibarat kayak di katalog interior gitu dah.
Padahal, hidup minimalis tuh nggak sesederhana itu.
Orang Jepang kebanyakan mikirnya hidup minimalis tuh lebih ke tentang memilih apa yang benar-benar penting dalam hidup mereka.
Bukan sekedar mengurangi barang, tapi mengurangi hal-hal yang nggak memberi makna juga.
Nggak ada ceritanya, mereka beli barang cuma karena terlihat lucu di foto. Apalagi sekedar FOMO.
Beda banget sama kita (aku khususnya), yang kalau ada diskonan langsung gerak cepat (gercep) buat checkout. Urusan kepake atau nggak itu belakangan.
Apalagi mamak-mamak. Sering banget kulihat ibuku menyimpan barang hanya karena sayang kalau dibuang. Padahal, itu barang cuma menuh-menuhin lemari penyimpanan. Kadang sampai nggak ada space lagi.
Wajar kalau rumah jadi terasa penuh. Bikin sesak. Jangan tanya lagi gimana kondisi pikiran!
Tapi, disitulah menariknya hidup minimalis ala Jepang. Mereka nggak berusaha untuk punya semua barang.
Mereka justru memilih secara sadar apa yang layak mendapat ruang di hidup mereka.
Filosofi Hidup Minimalis dalam Budaya Jepang

Makin banyak membaca tentang minimalisme Jepang, aku malah menemukan ada beberapa filosofi yang sudah lama hidup dalam budaya mereka lho.
Nggak heran kalau orang Jepang, kebanyakan teratur banget hidupnya. Kayak, nggak ada sesuatu yang nggak berada pada tempatnya.
Dan aku makin tertarik sama hidup minimalisnya orang Jepang.
Yuklah belajar bareng aku beberapa filosofi hidup minimalis dalam budaya Jepang, Sobat Flora!
Filosofi Wabi-Sabi
Filosofi ini tuh unik. Mereka bisa memandang keindahan dalam sesuatu yang sederhana atau nggak sempurna.
Kalau soal sederhana, mungkin masih ada lah beberapa orang yang bisa menemukan keindahannya. Kalau nggak sempurna? Makin dikit jumlahnya.
Begini lho contohnya, ada gelas atau cangkir keramik yang bentukannya nggak benar-benar simetris. Alias mencang-mencong. Siapa coba yang bakal melirik?
Atau contoh lain, meja kayulah. Hand made gitu. Tentu bakalan ada tekstur alaminya. Kalau di kita mah paling dianggap cacat produksi. Iya nggak, Sobat Flora?
Beda cerita kalau orang Jepang yang melihat. Mereka justru akan menemukan keindahannya di sana.
Nah kupikir filosofi ini cocok buat kita yang kadang masih terlalu sibuk mengejar kesempurnaan. Kayak, rumah harus seperti di katalognya. Hidup harus terlihat serba ideal.
Padahal, nggak ada yang salah lho dengan kesederhanaan. Justru seringnya, kesederhanaan malah lebih menenangkan.
Filosofi Danshari
Selain Wabi Sabi, ada konsep lain yang sering dibahas yaitu Danshari. Filosofi ini punya tiga makna utama, antara lain:
- Tolak barang yang nggak perlu.
- Buang barang yang sudah nggak kita perlukan lagi (which is ini sulit banget buat emak-emak Indonesia).
- Lepaskan keterikatan pada barang. Nggak ada istilah barang kesayangan di sini.
I know apa yang kalian rasakan kok, Sobat Flora. Aku juga merasa konsep ini bakalan sulit kuterapkan saat pertama kali baca.
Lha gimana dong? Jujur saja ya, aku tuh terlalu sering membuat hubungan emosional sama barang.
Kayak, ada baju kenangan pemberian doi. Seolah-olah doi bisa bersamaku selama baju itu ada. Padahal ‘kan nggak.
Pokoknya mah ada saja benda yang bisa mengingatkanku pada masa-masa tertentu. Biasanya, masa-masa yang kuanggap indah gitu deh.
Tapi, coba deh pahami lagi! Danshari tuh bukan menyuruh kita untuk membuang semua barang lho.
Filosofi ini tuh menganjurkan kita untuk memilih dengan sadar barang-barang apa saja yang masih memberikan manfaat untuk kemudahan hidup kita.
Konsep Ma atau Seni Ruang Kosong
Menurut kalian nih ya, apa sih menariknya ruang kosong? Ibarat rumah, kalau ada ruang kosong, aku pasti akan sibuk mikir mau kujadikan sebagai ruangan apa ini?
Tentu saja, lengkap sama mikirin furniture dan perintilan yang mungkin cocok di sana.
Tapi, orang Jepang nggak gitu. Mereka tuh punya konsep yang sangat menarik. Tentang ruang kosong yang namanya Ma (Japanese Concept).
Di budaya Jepang, ruang kosong nggak dianggap sebagai sebuah kekurangan. Malah ruang kosonglah yang kayak bisa memberi napas. Semacam memberi keseimbangan gitulah.
Sekarang, coba deh kalian perhatikan rumah-rumahnya orang Jepang!
Kebanyakan terlihat sederhana. Apalagi rumah tradisionalnya. Nggak banyak dekorasi. Furniture juga minim sekali. Benar nggak, Sobat Flora?
Menurut kalian kenapa konsepnya begitu?
Ya karena itu tadi. Bagi mereka, ruang kosong tuh memberikan ketenangan. Jadinya, pikiran nggak terlalu fokus sama rangsangan visual.
Makanya, aku mau coba untuk mengurangi barang-barang yang ada di rumah. Biar aku bisa merasakan hal yang sama kayak mereka.
Cuma memang bukan hal yang mudah. Apalagi kalau sudah berurusan sama barang-barang bernilai sentimental. Tapi, bukan yang nggak bisa dicari solusinya gitu lho.
Selain itu, aku ‘kan juga pengen punya rumah yang lega. Apakah nantinya pikiranku juga ikut terasa lebih ringan kalau sudah ikut konsep ini?
Kebiasaan Orang Jepang yang Mencerminkan Hidup Minimalis
Hidup minimalis tuh ya, nggak hanya terlihat dari rumah saja. Tapi, gimana caranya biar minimalis itu juga tercermin dalam kebiasaan sehari-hari juga.
Ini menarik nih. Soalnya, orang Jepang juga melakukan itu.
Mereka nggak hanya menjadikan minimalisme sebagai konsep doang. Tapi, memperlihatkannya dalam keseharian mereka.
Beberapa kebiasaan ini yang temanku temukan saat dia kuliah dan tinggal di Jepang.
1. Nggak Menyimpan Barang Berlebihan
Orang-orang Jepang tuh cuma mau menyimpan barang yang benar-benar mereka gunakan. Makanya, kesannya mereka kayak nggak punya barang sama sekali.
Padahal, mereka hanya mengontrol jumlahnya doang. Beda banget sama orang-orang kita yang semuanya kudu disimpan. Ntar pasti kepake, begitu alibinya.
Kebiasaan ini tuh menurutku masih masuk akal. Soalnya, barang yang kita simpan ‘kan harus terawat ya. Sementara, merawat barang butuh energi.
Kebayang dong kalau kita punya banyak barang yang tersimpan. Banyak juga energi yang keluar buat merawatnya.
2. Rumah yang Sederhana dan Fungsional
Orang Jepang mah biasanya punya desain rumah yang sederhana. Furnitur yang ada juga nggak terlalu banyak.
Kayak semua barang tuh punya fungsi yang jelas gitu lho.
Mereka kayaknya nggak kenal sama yang namanya meja buat pajangan doang. Atau lemari yang cuma buat naruh barang yang sudah lama nggak tersentuh.
Intinya, semua barang atau furnitur yang ada emang mereka sediakan untuk alasan lebih efisien dan fungsional.
3. Membeli Barang dengan Penuh Pertimbangan
Orang Jepang kalau beli barang nggak se-impulsif kita. Ada banyak pertimbangan sebelum memutuskan beli.
Hal inilah yang mulai akan kucoba pelajari. Makanya, sebelum membeli sesuatu, aku akan bertanya pada diri sendiri:
- Apakah aku benar-benar membutuhkannya?
- Apakah barang ini akan sering kugunakan?
- Apakah barang ini akan bikin hidupku lebih baik?
Pertanyaannya emang sederhana. Tapi cukuplah untuk mengerem keinginan beli barang yang emang nggak perlu. Nggak peduli betapa lucunya barang itu.
4. Menjaga Rumah Tetap Rapi Setiap Hari

Ini kata temanku yang kuliah dan tinggal di Jepang. Sejak, dia tinggal di sana, dia mulai terpengaruh sama kebiasaan merapikan rumah setiap hari.
Yah, meski dia punya balita yang kadang mainannya berserakan dan mungkin membuat tanduknya ke luar.
Seenggaknya setelah balitanya kelar main, dia akan mengajak itu bocah untuk merapikan mainannya sendiri.
Katanya sih sekalian membentuk kebiasaannya untuk mengembalikan barang ke tempatnya.
Ini tuh emang kebiasaan kecil. Tapi, dampaknya nggak main-main.
Merapikan rumah setiap hari. Meski cuma sebentar, entah lima atau sepuluh menit doang. Nggak nunggu rumahnya berantakan.
Cara Menerapkan Hidup Minimalis ala Orang Jepang
Gimana, Sobat Flora? Apa kalian tertarik mencoba hidup minimalis?
Tenang! Kalian nggak perlu langsung melakukan perubahan besar lho. Mulai saja dari langkah kecil, misalnya:
1. Decluttering
Selagi kita nggak menerapkan konsep minimalis, pasti sudah banyak barang yang tertumpuk. Mulai saja dari sini!
Pilah barang yang sudah lama nggak kalian gunakan. Entah itu baju yang nggak pernah kepake lagi atau barang yang hanya tersimpan di sudut lemari.
Aku tahu, awalnya pasti terasa berat. Tapi, lama-lama justru rumah akan terasa lebih melegakan.
2. Kurangi Belanja Impulsif
Kalau biasanya kalian suka lapar mata. Lihat barang lucu dikit langsung checkout. Nemu baju yang nyaman, gas beli.
Sekarang, usahakan untuk nggak begitu ya! Minimal kasih jeda sebelum membeli sesuatu.
Setelah berjeda dan kalian memang beneran butuh sama barang itu baru deh checkout.
Tapi, kalau nggak butuh, biasanya keinginan membeli barang itu akan hilang dengan sendirinya. Coba deh!
3. Pilih Barang yang Multifungsi
Ini nih yang lumayan penting. Kalau kalian pakai barang yang multifungsi, maka kalian bisa gunakan untuk beberapa hal sekaligus.
Dengan begitu, penggunaan barang di rumah kalian pun lebih sedikit. Benar nggak, Sobat Flora?
4. Ciptakan Ruang Kosong
Ini tuh nggak harus satu ruangan yang kosong gitu ya. Meski kalau memang bisa itu malah bagus.
Kalian bisa mulai dengan ruang kosong di meja, rak, atau ruangan (kalau memungkinkan). Yakin deh, suasananya bakalan terasa lebih tenang.
Selain itu, kalian juga akan lebih memahami alasan konsep ma menjadi sangat penting dalam budaya Jepang.
5. Fokus pada Pengalaman, Bukan Barang
Tahu nggak sih? Kebahagiaan tuh nggak selalu datang dari punya sesuatu lho.
Meski kadang ada saja perasaan senang saat berhasil membeli barang yang memang kita pengen.
Seringnya, kebahagiaan itu datangnya dari pengalaman sederhana. Kayak, ngopi santai di pagi hari, menulis blog dengan tenang, atau menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat.
Malahan, hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa juga berpotensi untuk mengundang kebahagiaan lho.
Tantangan Saat Mencoba Hidup Minimalis ala Orang Jepang
Aku menyadari kok perjalanan menuju hidup minimalis nggak selalu mulus. Ada saja tantangannya.
Masih sering tergoda membeli barang yang nggak pentinglah. Susah lepas dari barang kenanganlah.
Khusus buat mamak-mamak nih. Paling nggak bisa kalau nggak menyimpan barang-barang yang dianggapnya akan kepake nanti.
Misalnya, habis beli salad. Tempat saladnya disimpan buat wadah lauk atau apa.
Tapi ya, menurutku ini tuh bagian dari proses. Belajar pelan-pelan saja. Nggak perlu langsung sempurna. Kenapa?
Soalnya, minimalisme tuh tentang belajar lebih sadar sama pilihan kita.
Jadi, Hidup Minimalis Bukan Tentang Punya Barang Sedikit
Kalau kalian masih berpikir kalau hidup minimalis ala orang Jepang berarti punya barang sedikit, maka kalian masih harus belajar lagi.
Soalnya, minimalisme tuh memberi ruang bagi hal-hal yang benar-benar penting untuk hidup. Entah itu, ruang di rumah, di pikiran, bahkan dalam kehidupan kita.
Mungkin saja nih ya, di tengah dunia yang semakin ramai dan penuh sama distraksi, bisa jadi ruang kosong menjadi sesuatu yang sangat kita butuhkan.
Sudah segitu dulu ya, Sobat Flora! Kita lanjut lagi di tulisan yang lain nanti. Sampai jumpa!





