Hola, Sahabat Flora di manapun kalian berada. Kali ini, aku akan menceritakan tentang kenangan di Jogja dan alasanku ingin kembali ke sana. Semoga kalian mau baca ya!
Maksudku, siapa tahu bisa jadi inspirasi buat itinerary liburan kalian suatu saat nanti gitu lho. Iya nggak? Iyain ajalah ya. Hehehe…
Bagiku, ada kota yang nggak perlu sering kukunjungi untuk tetap terasa dekat. Jogja adalah salah satunya.
Meski jarak dan waktu memisahkan, kenangannya seperti selalu punya cara sendiri untuk pulang ke ingatan. Seperti kata orang-orang. Jogja istimewa yang terasa seperti rumah.
Apa kalian juga berpikir begitu, Sahabat Flora?
Kenangan di Jogja
Akhir tahun 2016 menjadi salah satu penanda kenapa Jogja bisa menetap hangat di kepalaku.
Waktu itu, aku dan sahabatku memutuskan liburan sederhana ke Jogja. Nggak ada rencana besar, nggak bikin itinerary yang terlalu rapi.
Kami hanya membawa semangat liburan. Koper kecil, yang bahkan ukurannya mirip ukuran koper kabin. Juga, keinginan untuk menghabiskan waktu bersama.
Biar nggak melulu menghabiskan waktu di Semarang, pikirku saat itu.
Jadilah, sepulang kantor kami (aku, sahabatku, dan teman kantor kami yang orang Jogja) bergegas ke travel shuttle yang membawa kami dari Semarang ke Jogja.
Begitulah. Kenangan di Jogja akhir tahun 2016 kami diawali dengan sarapan soto, yang katanya adalah tempat favorit mahasiswa salah satu kampus ternama di sana.
Setelah sarapan, kami berpisah. Teman kantor kami balik ke rumahnya, sementara aku dan sahabatku akan bertemu dengan teman perjalanan kami yang lain untuk rute berikutnya.
1. Malam Tahun Baru di Pantai Kesirat

Kenekatan kami menghabiskan liburan akhir tahun tanpa rencana atau itinerary membawa kami bertemu dengan teman pramuka sahabatku.
Dari obrolan santai, lahirlah keputusan spontan. Gimana kalau kami menghabiskan malam tahun baru dengan camping di Pantai Kesirat bersama mereka?
Aku sih nggak masalah. Mereka juga begitu. Jadilah, aku dan sahabatku ikut umpel-umpelan di mobil mereka.
Malam itu, Jogja menghadiahkan langit paling jujur yang pernah kulihat. Bintang bertaburan tanpa malu, kembang api meledak di angkasa, dan suara ombak menjadi musik latar yang tak perlu kuminta.
Kami duduk bersama, berbagi cerita, tertawa tanpa beban, seolah hidup saat itu hanya perlu dijalani. Bukan dikejar.
Meski aku adalah orang baru, tapi kami terasa akrab. Sempat masak indomie bersama, foto bersama, dan menghabiskan malam tahun baru rame-rame.
Di momen itu aku belajar satu hal sederhana. Kebahagiaan nggak selalu datang dari tempat mewah, tapi dari rasa cukup. Dan Jogja, entah gimana, selalu tahu caranya menghadirkan rasa itu.
2. Pagi yang Berjalan Pelan di Malioboro

Pagi setelah camping terasa hangat meski tubuh sedikit lelah. Kami meninggalkan Pantai Kesirat ke arah Malioboro, menyusuri trotoarnya yang selalu ramai tapi sekaligus terasa akrab.
Di sanalah aku bertemu kembali dengan teman kerjaku semasa di Kalimantan. Yah, kami janjian untuk bertemu dan ngobrol di sana.
Rasanya, Jogja sudah kayak simpul yang mempertemukan banyak garis hidup. Tanpa rencana, nggak pake janji khusus, tapi selalu ada pertemuan yang terasa tepat waktu.
Kami ngobrol ringan, tertawa bersama, sampai cerita tentang hidup yang berjalan ke arah masing-masing. Semuanya terasa mengalir dan menyenangkan.
Saat itu aku berpikir, ternyata Jogja bukan hanya tentang tempat wisatanya. Tapi, tentang manusia-manusia yang pernah singgah di dalamnya.
Apa Sahabat Flora pernah janjian bertemu dengan teman lama yang kebetulan juga singgah di tempat wisata yang sama dengan kalian? Boleh ceritain di kolom komentar ya!
3. Menutup Perjalanan di Borobudur

Apakah perjalanan kami sudah usai? Tentu saja nggak. Setelah pertemuan dengan rekan kerja saat di Kalimantan, aku dan sahabatku mencari penginapan di sekitaran Malioboro.
Rencananya, kami akan menutup kenangan di Jogja dengan mengunjungi Borobudur. Kami bahkan menyewa satu unit sepeda motor kala itu. Biar lebih mudah pergerakannya gitulah.
Meski agak jauh, keesokan harinya, kami berkendara sepeda motor mengunjungi Borobudur.
Berdiri di antara relief dan batu-batu tua, aku merasa kecil sekaligus tenang. Sejarah seakan berbisik pelan, mengajarkan bahwa hidup nggak perlu selalu tergesa-gesa.
Saat itu, aku merasa Borobudur menjadi penutup yang pas untuk perjalanan singkat itu. Dari pantai, kota, hingga warisan budaya, Jogja mengajarkanku menikmati perjalanan, bukan sekadar tujuan.
Alasan Ingin Kembali ke Jogja

Kini, setelah 10 tahun berlalu, aku sering memikirkan perjalanan itu. Bukan karena ingin kembali menjadi orang yang sama, tapi karena ingin mengulang rasa yang pernah ada.
Semacam rasa ringan, rasa dekat dengan hidup gitulah.
Ada beberapa alasan aku ingin kembali ke Jogja. Mungkin kurang lebih samalah dengan alasan Sahabat Flora semua yang pernah berkunjung ke sana, yaitu:
- Di Jogja tersimpan versi diriku yang bahagia tanpa banyak tuntutan.
- Kota itu selalu mempertemukan. Bukan hanya tempat, tapi juga kenangan.
- Waktu di Jogja terasa berjalan lebih pelan. Seperti, memberi ruang untuk bernapas.
Nggak menutup-kemungkinan, nanti aku juga akan menyempatkan diri menjelajah kota sekitar. Siapa tahu bisa singgah ke beberapa tempat wisata di Solo.
Atau menjadikannya sebagai bagian dari ide liburan bersama keluarga yang lebih tenang dan bermakna.
Suatu Hari, Aku Pasti Kembali ke Jogja
Aku nggak tahu kapan akan kembali ke Jogja. Tapi keinginan itu selalu ada, tumbuh pelan-pelan setiap kali kenangan itu muncul.
Mungkin suatu hari nanti, aku akan pulang. Bukan sekadar sebagai wisatawan, tapi sebagai seseorang yang ingin menyapa kenangan di Jogja versiku sendiri.
Dan jika saat itu tiba, entah lewat perjalanan mandiri atau memilih paket trip Jogja yang lebih praktis, aku tahu satu hal. Jogja akan tetap menyambut, dengan caranya yang sederhana dan hangat.
Karena beberapa kota nggak pernah benar-benar kita tinggalkan. Mereka hanya menunggu kita siap untuk kembali.
Kalau Sahabat Flora punya cerita kenangan tentang Jogja, coba dong share di kolom komentar!






malioboro selalu jadi tujuan wisata ya. karena lengkap bangettt
Mbaak, aku ke jogja juga thn 2016 loh, dan itu trakhir aku kesana. Tapi memang ngga moment tahun baru. Waktu itu lagi viral2nya kalibiru dan kebun buah mangunan dan juga hutan pinusnya.
Main ke borobudur jg
MasyaAllah perasaan kita sama, pingin bangettt balik lagi main ke jogja.
Tapi kudu nabung banyak dulu, krn tiket pesawat bikin nangiss huhuu
Yogyakarta pada sepakat ya selalu ngangenin dan pada pengen kembali. Dan dari semua lokasi wisata, Malioboro selalu yg teratas.
Padahal saya lebih suka ke Gembiraloka atau Taman Pintar kalau bawa anak mah
Gak banyak kenangan saya tentang Jogja. Ditambah lagi, kalau ke Jogja seringnya sama keluarga besar yang destinasinya selalu ke tempat sama terus. Kayaknya perlu sesekali explore Jogja lebih lama hanya bersama keluarga kecil saya. Supaya bisa lebih terkesan dengan Jogja dan ingin kembali.
Jalan-jalan yang sangat menyenangkan ya, Mbak. Dengan waktu yang ada, tapi tetap padat dan seru. Dan memang biasanya justru yang tidak direncakan itu, justru malah berjalan sukses. Dan ini alurnya sukses, Mbak. Dari camping di Pantai Kesirat, lalu lanjut ke Malioboro bertemu teman lama, kemudian ditutup manis ke candi Borobudur. Pantas Mbak Yuni pengin mengulang lagi kenangan manis 10 tahun yang lalu.
Saya lagi di jogja nih, malah udah berbulan-bulan karena rumah eyang di Jogja deket banget dengan faskes 1 dan faskes 2
selebihnya, setiap hari saya blusukan sekitar Malioboro karena rumah eyang deket banget dengan Malioboro, mungkin hanya 2-3 menit berjalan kaki
Yuk kapan ke sini? Bisa sepuasnya jalan-jalan di Jogja atau mampir ke Solo naik KRL ^^
Ah Yogyakarta. One of the best feeling I’ve ever had. Bahkan hingga kini masih tetap aja setia bolak-balik menikmati setiap sudut kotanya yang penuh dengan cerita dan sudut kebahagiaan. Bermimpi suatu saat bisa menghabiskan masa pensiun di sini dan aktif di banyak kegiatan yang berhubungan dengan literasi serta menikmati slow living yang merabuk jiwa.
Kayaknya semua orang sepakat ya say, kalo Jogja itu bukan cuma destinasi tapi juga ruang untuk pulang. Asyik banget kayaknya main ke Pantai Kesirat. Malioboro dan Borobudur juga, walau udah visit beberapa kali, tetap aja kangen ke sana lagi. I feel you mbak.
Saya bantu aminkan doa dan niatan kembali ke Jogja -nya mbak.
Saya pernah tinggal tiga bulan di Jogja dan sampe sekarang pun masih suka kangen. Emang penuh nostalgia ya.. Apalagi kalau perginya bareng teman -teman.
Pantai Kesirat masuk dalam list yang ingin saya kunjungi kalau balik lagi. Makasih rekomendasinya
Pantai
Kunjungan yang singkat tapi berkesan ya, mbak. Jangankan buat pendatang, aku yang warga asli sana selalu ingin kembali ke sana. Suasana Jogja itu… tentram. Malam-malam menyusuri jalanan kampung, mampir angkringan atau warung makan lainnya.
Sekarang mbak Yuni stay di mana?
Madura, Mas. Hehehe
Aku baruu tau setelah nonton beberapa konten mengenai kereta api kalau Jogja itu menjadi destinasi nomer 1 di Indonesia.
Pantes aja transportnya selalu ‘beda’ harganya.
Tapi memang gasalah kalo merindu Jogja yaah.. sangat ramah di segala hal, dari mulai tempat wisata, kuliner dan culture nya.
Jogja memang selalu istimewa, yang pernah ke Jogja, merasakan vibesnya, pasti pengen bisa balik lagi ke sana.
Semoga setelah 10 tahun, bisa kembali lagi ke sana ya mbak, mengenang tempat-tempat yang pernah dikunjungi, ataupun mengunjungi tempat-tempat baru di Jogja
Tiap main ke jogja wajib mampir dan belanja di malioboro ya mba. Aku juga suka banget liburan ke Jogja. Banyak tempat wisata iconik yang bikin betah jelajahi dan cicipin kulinernya juga. Hehe
Di jogja tuh vibes hidupnya tenang dan sederhana..
Entah karena kesana hanya untuk liburan beberapa hari jadi rasanya kalo ke jogja itu lepas dari semua lelah..
Jalan di malioboro, atau prambanan atau bahkan borobudur di magelang semua terasa gak mau berakhir hahahaha