Kalian pikir jago menulis doang sudah bisa membuka banyak peluang kerja sama? Nggak ya, Sahabat Flora. Jago dalam bidang tertentu nggak lantas bikin kalian punya apa itu personal branding di bidang tersebut.
Minimal, kalian perlu menunjukkan kemampuan kalian. Cara paling efisien saat ini ya dengan membuat konten yang sesuai. Lalu, membagikannya ke media sosial.
Dengan begitu, orang akan mengenali reputasi profesional kalian. Terus pihak lain yang punya maksud yang berhubungan dengan personal branding tersebut akan lebih mudah menemukan kalian.
Memangnya, apa itu personal branding? Kenapa bisa membuka peluang lebih mudah? Yuk kita bahas jawabannya, Sahabat Flora-ku!
Apa itu Personal Branding?
Personal branding adalah persepsi orang tentang kalian. Ini tuh bukan cuma berdasar dari apa yang kalian katakan ya, Sahabat Flora. Tapi, juga dari apa yang kalian lakukan secara konsisten.
Contohnya begini, ada teman blogger yang terkenal jago desain grafis. Semua akun sosial medianya bisa menunjukkan itu. Jadi semisal, ada yang butuh bikin selebaran atau apa gitu, selalu nge-chat dia.
Berarti personal branding sama dengan pencitraan dong? Kayaknya banyak Sahabat Flora yang masih menganggap keduanya sama. Padahal, mereka tuh beda lho.
Pencitraan sering fokus sama gimana bisa terlihat baik menurut orang lain. Sementara, personal branding dibangun dari konsistensi menunjukkan gimana kalian ingin dikenal.
Kalau cuma modal pencitraan, sangat mungkin orang akan tertarik di awal yang kemudian mengundang peluang. Tapi, apakah itu akan bertahan? Belum tentu.
Kenapa Personal Branding Bisa Membuka Peluang Lebih Mudah?

Coba kutanya satu hal ke Sahabat Flora. Saat kalian lagi membutuhkan sesuatu, bisa jasa atau ilmu tertentu, apa yang kalian lakukan?
Paling mudah ya bertanya ke orang lain. Bisa juga mencari infonya di mesin penelusuran.
Kebayang dong kalau orang sudah kenal reputasi profesional kalian? Jelas, orang atau mesin penelusur akan mengarahkan ke kalian. Iya ‘kan, Sahabat Flora?
Iya dong. Soalnya, mereka sudah percaya sama kalian. Khususnya sih pada apa keahlian dan nilai yang kalian punya.
Nah, kepercayaan inilah yang nantinya membuka banyak peluang dengan lebih mudah. Peluang apa saja yang dimaksud?
Macam-macam. Bisa tawaran pekerjaan, proyek freelance, kolaborasi, kesempatan jadi pembicara, promosi jawaban, dan lain-lain.
Pokoknya, kalau reputasi profesional sudah kuat, urusan monetisasi mah cincai lah. Orang bakal lebih mudah untuk beli produk, pakai jasa, dan apapun yang kalian tawarkan.
Siapa yang Butuh Personal Branding?
Pake nanya. In this economy, siapapun yang butuh duit, kayaknya butuh personal branding dah.
Mau kalian influencer, selebgram, kreator konten, atau karyawan sekalipun, bakal lebih menguntungkan kalau kalian punya personal branding.
Hah? Karyawan?
Hooh. Aku memang menyebutkan karyawan juga. Soalnya, menurutku kalau karyawan punya personal branding, dia akan punya kredibilitas di tempat kerjanya.
Apalagi soal bisnis. Pelanggan pasti akan lebih mudah yakin sama produk atau jasa kalian dan menggunakannya kalau value-nya sesuai kebutuhan mereka.
Catatan untuk apa itu personal branding tuh bukan siapa yang paling terkenal. Tapi, siapa yang paling mudah diingat karena value dan kemampuan yang kalian miliki.
Langkah Awal Bangun Personal Branding

Kubilangin ya, Sahabat Flora. Membangun reputasi profesional tuh bukan pekerjaan semalam. Butuh yang namanya waktu sama konsistensi.
Nggak usah bingung gimana memulainya. Aku tadi sempat lihat podcast-nya Theo Derick tentang tips membangun personal branding dari nol.
1. Cari Tahu Purpose Kalian
Purpose tuh tujuan yang ingin kalian capai atau dampak seperti apa yang ingin kalian berikan ke orang lain.
Kalau kalian sudah punya ini, maka kalian nggak akan mudah ikut-ikutan tren.
Selain itu, arah kalian membangun personal branding pun akan lebih pasti. Apa yang penting dan nggak penting juga lebih jelas.
2. Listing Strength, Value, dan Impact
Tulis semua kemampuan, nilai yang kalian punya, dan dampak yang kalian mau berikan ke orang lain.
Ini nantinya yang akan menentukan persepsi yang ingin kalian bangun. Apakah harus sesuai karakter diri?
Sebenarnya nggak ada keharusan seperti itu. Kalian juga boleh kok membangun persepsi yang jauh berbeda sama karakter kalian.
Hanya saja, ini tuh balik lagi ke purpose yang sudah kalian tentukan di awal tadi.
3. Combine Purpose dan Strength
Kalau sudah ketemu dua point yang utama tadi, gabungkan keduanya jadi identitas atau persepsi baru yang konsisten.
Tunjukkan bagian authenticity dari diri kalian yang akan jadi ciri khas di mata orang lain!
4. Konsisten
Tunjukkan authenticity tadi ke orang lain! Jaman digital begini lebih mudah kalau mau menunjukkannya. Pakai saja akun sosial media yang kalian miliki.
Misal, TikTok untuk content distribution, ada Instagram yang emang tempatnya middle up personal branding, atau media sosial lainnya semacam X dan Thread.
Pilih dah tuh mau yang mana! Kuncinya cuma satu. Konsisten.
5. Trial, Error, dan Evaluasi
Kalian mungkin nggak langsung ketemu authenticity yang cocok. Wajarlah. Apalagi kita bukan artis yang wira-wiri di layar kaca.
Nggak masalah, Sobat Flora. Setelah konsistensi menunjukkan authenticity di media sosial, langkah berikutnya mulai evaluasi semua konten yang sudah terpublikasi.
Cari tahu konten mana yang works dan mana yang nggak sampai ketemu winning content! Biasanya sih konten-konten yang views-nya besar atau audience-nya paling engage.
Kalau memang nggak cocok dengan personal kalian dan mau mengubahnya juga nggak masalah. Dengan catatan, kalian harus berpegang teguh sama purpose yang sudah kalian tetapkan di awal tadi.
Personal Branding bisa jadi Investasi Jangka Panjang

Banyak orang berharap hasil yang instan. Sekali bikin konten untuk reputasi profesional langsung berhasil. Langsung viral.
Tapi, kalian jangan lupa ya! Kalian tuh bukan hanya sekedar mengumpulkan jumlah pengikut atau membangun popularitas.
Kalian sedang membangun kepercayaan yang tentu saja butuh waktu.
Semakin lama dan konsisten kalian dalam menunjukkan kemampuan, menjaga kualitas, dan memberikan manfaat pada orang lain, maka, semakin kuat pula reputasi yang terbentuk.
Reputasi inilah yang nantinya akan membuka banyak peluang tanpa kalian harus susah-susah mengenalkan diri lagi dari awal.
Dalam artian, personal branding bisa banget jadi investasi jangka panjang. Kalau sudah punya personal branding, kalian akan lebih mudah dicari oleh pihak yang membutuhkan. Bukan begitu, Sahabat Flora?
Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan topik kayak gini, jangan lupa mampir ke kategori pengembangan diri.
Di sana ada berbagai artikel lain yang membahas cara mengenal potensi diri, membangun kebiasaan positif, sampai meningkatkan kualitas diri secara bertahap.





