Zaman Serba Cepat, Otak Lelah? Kenali Penyebab Stres Modern!

Pagi ini aku bangun seperti biasa, tapi ada yang beda. Badan terasa berat, kepala penuh, dan semangat entah ke mana.

Padahal semalam tidur cukup kok. Tidak ada drama besar dan to-do list hari ini juga tidak begitu padat. Tapi tetap saja, rasanya lelah. Bukan cuma fisik, tapi juga pikiran.

Apa Sobat Venus juga pernah mengalami hal serupa? Hari terasa biasa saja, tapi dalam hati kayak lagi perang. Mungkin kamu lagi stres. Mau cari tahu penyebab stres modern?

Penyebab Stres Modern

Dari pengalaman itu, aku mulai menyadari ternyata stres zaman sekarang tuh tidak selalu datang dari hal besar.

Justru seringnya muncul dari hal-hal kecil yang numpuk pelan-pelan, kayak tetesan air di ember. Tidak kelihatan bahaya di awal, tapi lama-lama bikin penuh juga.

Biar kita bisa lebih peka dan tidak gampang meledak sendiri, yuk coba kita lihat apa aja sih penyebab stres yang sering banget kita temui di era modern ini!

1. Multitasking Tiap Detik

Dulu aku bangga banget bisa mengerjakan banyak hal sekaligus. Sambil ngetik laporan, aku balas chat grup kantor, buka tab YouTube buat mendengerkan musik, dan sesekali cek Instagram.

Rasanya keren aja. Efisien, sibuk, dan produktif.

Tapi lama-lama, kayak ada yang aneh deh. Pekerjaan jadi makin sering tertunda, konsentrasi gampang buyar, dan di akhir hari aku merasa… Kosong. Capek, tapi bingung capeknya tuh kenapa.

Ternyata, otak kita bukan mesin serba bisa yang bisa dibagi fokusnya ke banyak arah sekaligus, Sobat Venus.

Setiap kali kita lompat dari satu aktivitas ke yang lain, otak butuh waktu buat “nyetel ulang”. Dan itu bikin energi mental terkuras diam-diam.

Multitasking yang kita lakukan terus-menerus bisa bikin kita gampang lelah, gelisah, dan lebih rentan stres.

Apalagi kalau semua itu berbarengan sama deadline dan notifikasi yang tidak pernah berhenti.

Spaneng, Gaes! Yah meski ada manfaat mendengarkan musik sambil belajar sih.

2. Overload Informasi

Sobat Venus pernah tidak mengalami hal ini? Pinginnya cuma mau cek satu hal di Google.

Tapi, satu jam kemudian, kamu malah sudah baca lima artikel, nonton dua video, dan malah lupa mau cari informasi yang kita ingin cek di awal tadi.

Aku sih sering banget begitu. Niatnya mau cari info resep makan malam, eh malah nyasar ke berita politik, terus lanjut scroll TikTok, sampe lupa waktu.

Baca juga:  Mengenal Tanaman Obat Keluarga dan Manfaatnya

Di zaman sekarang, informasi datang dari segala arah. Mulai dari handphone, email, media sosial, sampai notifikasi aplikasi yang entah kenapa makin kreatif ganggunya.

Sementara, otak kita tidak dirancang untuk menerima sebanyak itu dalam waktu yang sempit.

Setiap kali kita menyerap informasi, otak bekerja keras memilah mana yang penting, mana yang bisa disimpan, dan mana yang harus dibuang.

Kebayang kan capeknya?

Akhirnya, tanpa sadar, kita jadi gampang cemas, sulit fokus, dan jadi overthinking. Bukan karena hidup kita lebih sulit, tapi karena otak kita terus-terusan kebanjiran data, kayak laptop yang kelamaan tidak di-restart.

3. Notifikasi & Gadget Nonstop

notifikasi gadget nonstop bisa bikin stres di era modern

Coba deh, hitung berapa kali notifikasi ponselmu bunyi hari ini? Kalau aku sih sudah tidak terhitung kayaknya.

Mulai dari notifikasi email, chat kerjaan, update grup keluarga, sampai reminder diskon aplikasi ojol.

Semuanya menyerbu tanpa ampun. Bahkan kadang ponsel tidak bunyi pun, tangan ini otomatis cek, takut ada yang “ketinggalan”.

Masalahnya, setiap kali layar ponsel menyala, otak kita langsung masuk mode siaga.

Apalagi kalau notifnya penting. Jantung langsung deg-degan, kepala mikir cepat, dan fokus langsung pindah haluan.

Hal kecil kayak gitu, kalau terjadi puluhan kali sehari, bikin energi kita terkuras habis.

Aku pernah mencoba menon-aktifkan semua notifikasi selama setengah hari dan rasanya…  damai, cuy!

Ternyata, keheningan itu mahal. Kita butuh ruang untuk benar-benar hadir di satu momen. Bukan jadi budak dari layar yang on terus.

Kadang, yang bikin stres itu bukan kerjaannya, tapi distraksinya. Benar tidak, Sobat Venus?

4. FOMO alias Fear of Missing Out

Pernahkah Sobat Venus mengalami hal ini? Lagi santai di rumah, scroll Instagram, terus tiba-tiba merasa kayak ada yang kurang?

Ya, gimana tidak merasa begitu? Wong di Instagram kita melihat ada yang lagi liburan ke Bali, ada yang baru launching bisnis, dan ada yang tunangan dengan dekor mewah.

Sementara kita (aku sih lebih tepatnya)?

Lagi rebahan, pakai daster, dan menunggu mie instan mateng. Hahaha….

Aku sering banget merasa seperti itu. Padahal sebelumnya, tidak ada masalah sama sekali. Tapi, setelah melihat postingan orang, tiba-tiba hati jadi tidak tenang.

Seolah-olah aku ketinggalan sesuatu. Seolah-olah hidupku belum cukup.

Inilah yang namanya FOMO, Sobat Venus. Di era digital, kita bisa melihat kehidupan orang lain setiap saat.

Baca juga:  Apakah Keputihan Berbahaya?

Tapi sayangnya, yang kita lihat cuma potongan terbaiknya. Kita lupa, semua orang juga punya sisi lelah, gagal, dan bingung.

Cuma tidak semua orang suka memamerkan itu di medsos. Akibatnya, kita suka membandingkan realita hidup kita dengan highlight hidup orang lain.

Terasa tidak adil, kan?

FOMO ini pelan-pelan bisa mengikis rasa syukur dan bikin kita terus merasa kurang. Padahal mungkin, hidup kita baik-baik aja.

5. Sibuk Tapi Tidak Pernah ‘Nge-charge

Ada masa di hidupku di mana tiap hari rasanya penuh. Rapat, deadline, kerjaan rumah, bantuin orang, dan balas chat.

Jadwal selalu padat, tapi anehnya, aku tidak merasa puas. Malah makin sering merasa hampa dan gampang marah.

Kayak baterai handphone yang dipakai terus tapi tidak pernah di-charge.

Zaman sekarang, sibuk sering dianggap sebagai tanda sukses. Semakin hectic, semakin keren. Tapi jarang yang nanya: “Kamu capek nggak?” atau “Kamu sempat istirahat nggak sih hari ini?”

Padahal, tubuh dan pikiran kita butuh waktu buat berhenti. Sekedar bernapas. Buat mikir tanpa distraksi.

Tapi sayangnya, “istirahat” sering disalahartikan sebagai malas. Akhirnya, kita terus ngegas tanpa rem, sampai stres jadi teman akrab.

Kadang, ‘rebahan sambil dengerin hujan’ itu bukan kemalasan. Itu proses recovery. Dan itu penting banget lho, Sobat Venus.

6. Tekanan Sosial yang Halus Tapi Nyata

Pernah tidak, Sobat Venus mendengar kalimat semacam ini:

“Kok belum nikah sih?”

“Kerja di situ terus? Nggak mau naik level?”

“Masa umur segini belum punya rumah sendiri?”

Kalimatnya mungkin disampaikan dengan nada santai, bahkan terkadang pakai tawa. Tapi efeknya?

Duh, bisa ngena banget ke hati. Tanpa sadar, kita mulai mempertanyakan diri sendiri. “Aku kurang ya?” atau “Apa aku salah jalan?”

Tekanan sosial itu tidak selalu keras dan jelas. Kadang, dia hadir dalam bentuk perbandingan halus, saran ‘baik-baik’ atau ekspektasi diam-diam dari orang sekitar.

Kita jadi merasa harus memenuhi standar tertentu biar dianggap “cukup”. Biar tidak ketinggalan. Biar bisa diterima.

Dan tahu tidak? Itu tuh capek banget. Apalagi kalau kita sebenarnya sudah berusaha keras sesuai versi kita sendiri.

Penyebab stres modern ini muncul karena kita terus mencoba jadi versi ideal menurut orang lain. Padahal siapa sih yang paling tahu diri kita? Ya cuma kita sendirilah.

7. Kurang Koneksi Emosional

Beberapa waktu lalu, aku duduk di kafe, melihat sekeliling, dan sadar akan sesuatu. Hampir semua orang sibuk dengan layar masing-masing.

Baca juga:  Pentingnya Memperhatikan pH Pembersih Kewanitaan

Bahkan pasangan yang duduk bersebelahan pun, sama-sama pegang handphone tanpa mengobrol.

Rasanya aneh. Kita hidup di era yang terhubung 24 jam, tapi seringkali merasa sendirian. Benar tidak, Sobat Venus?

Aku juga pernah sih ada di fase itu. Banyak interaksi, tapi semua serba singkat. Kayak serba basa-basi.

Tidak ada obrolan dalam. Tidak ada ruang buat bercerita jujur atau sekadar bilang, “Aku lagi nggak baik-baik aja.”

Dan itu pelan-pelan bikin hati kosong.

Manusia tuh butuh koneksi, bukan cuma sinyal internet. Kita butuh pelukan, tatapan mata yang penuh empati, atau kalimat sederhana kayak, “Aku dengerin, kok.”

Tapi di tengah kesibukan dan dunia digital, koneksi emosional makin langka. Akibatnya? Kita lebih gampang cemas, merasa terisolasi, dan stres diam-diam.

Stres yang datang bukan karena beban kerja, tapi karena merasa tidak lagi punya tempat untuk berbagi beban itu.

Saat Dunia Ngebut, Kita Perlu Berhenti Sebentar

berhenti sejenak biar tidak stres

Zaman emang makin cepat, tapi bukan berarti kita harus selalu ikut lari. Kadang yang kita butuhkan bukan liburan mahal atau motivasi dari luar. Tapi cuma satu hal sederhana yaitu sadar bahwa kita boleh berhenti sebentar.

Jadi, kalau kamu merasa lelah, tapi bingung atau tidak tahu apa alasannya. Coba deh cek lagi! Mungkin salah satu penyebab stres modern di atas lagi numpuk di kepalamu.

Sekarang coba kamu tanya ke diri sendiri:

  • Apa yang paling sering bikin aku stres akhir-akhir ini?
  • Kapan terakhir kali aku benar-benar istirahat tanpa gangguan?
  • Apa satu hal kecil yang bisa aku ubah mulai hari ini?

Yuk, mulai dengan langkah kecil! Matikan notifikasi satu jam lebih awal! Jalan sore tanpa bawa handphone! Atau sekadar duduk diam sambil tarik napas dalam! Biar mental health terus terjaga.

Karena kamu layak merasa tenang, bahkan di dunia yang serba cepat ini. Fighting ya, Sobat Venus! Kamu selalu bisa melakukan digital detox kapanpun kamu mau.

26 pemikiran pada “Zaman Serba Cepat, Otak Lelah? Kenali Penyebab Stres Modern!”

  1. Bener ya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan psikis tuh harus (sangat) kita jaga. Karena sesungguh kekuatan psikis dan pikiran adalah driver utama dari kesehatan jiwa yang justru sangat berbahaya jika kita abaikan. Menjaga diri sendiri agar tetap “waras” dan hidup seimbang antara pikiran, mental, dan keadaan serta kebutuhan harus benar-benar dijaga. Tidak over thinking dan ikhlas serta berserah kepadaNya bisa jadi solusi yang baik untuk kita jalankan.

    Balas
  2. Ada lagi nih istilah stress modern, hehehe. Sekarang banyak banget faktor penyebab stress ya kak.. saya akui jika terlalu sering akses media sosial bisa stress sendiri lho. Oleh karena itu sebisa mungkin menggunakan gadget tahu batasan. Tapi dalam hati mikir, lah kerjaan kita kan berhubungan dengan gadget, hehehe.

    Balas
  3. Artikelnya relate banget dengan yang pernah aku alami, dan solusi aku biasanya ambil jeda sejenak seperti tidur atau gak me time ala² gitu mbak. Hehe setelahnya pikiran dan hati terasa lebih plong gitu.

    Balas
  4. Kalo saya sih bikin target, harus selesai apa dalam jangka waktu yang kita tentukan

    tapi harus masuk akal

    jadi kalo tergoda (malah ngedrakor atau apa gitu :D), saya inget punya kerjaan yang belum diselesaikan, jadi berusaha tertib ngedrakornya hanya sekian jam, karena harus nyelesain target sekian jam

    Balas
  5. Seberat apapun tekanan yang mengharuskan berpikir cepat, tetep sih jangan lupa buat istirahat. Kasihan juga otak dan badan, biarkan rehat.

    Balas
  6. Dunia modern ini beneran kalau nggak pinter-pinter kita mengambil sikap jadi mudah stress ya, bagus sih sekarang banyak konsep slow living jadi nggak melulu ngoyo banget dalam hidup

    Balas
  7. Kesehatan mental itu fondasi dari segalanya. Kalau pikiran goyah, efeknya bisa merambat ke seluruh aspek hidup. Makanya penting banget untuk menjaga keseimbangan antara pikiran, perasaan, dan realita hidup. Kadang, cukup dengan belajar menerima, melepas beban, dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja.

    Balas
  8. Ah iya, benar juga ya. Sesuatu yang didapatkan dengan mudah dan cepat tak selalu baik. Zaman yang lebih cepat seperti ini, ternyata bisa menjadi tekanan tersendiri ya mbak

    Balas
  9. Yashhh relatable bangeettt dengan semuanyaaa hahahah
    apalagi, di dunia offline, sodara2ku tuh melesaaattt semua prestasinya
    sementara aku kayak jalan di tempat aja 🙁
    makanya, aku kudu sering2 digital detox. supaya tetap waras jiwa raga!

    Balas
  10. Setuju banget, capek tuh memang nggak selalu soal fisik ya mbak, justru ekspektasi dan overthinking yang sering kali pelan-pelan nguras energi tanpa kita sadari. Makanya penting banget punya ruang buat jujur sama diri sendiri. Menariknya, kadang kita terlalu fokus ngejar “versi ideal” diri sampai lupa nanya: sebenernya, siapa sih yang bikin standar itu? Diri sendiri, lingkungan, atau campur aduk?

    Balas
  11. Poin ketiga yang paling sering aku alamin si, apalagi yang sehari-harinya selalu dapet notif hape dan memang harus buka. Rasa stresssnya itu bukan main, sampe kena mental.

    Makanya aku makin kesini mulai digital detox juga.

    Balas
  12. Nomer dua itu aku banget, Mbak.
    Mau nyari apa, larinya kemana dan yang dibaca apa.
    Kadang efek dari nomor dua kebawa sampai ke dunia nyata.
    Overload informasi = Overthingking.
    Dan ini bikin aku jadi was-was sendiri.

    Perlunya managemen waktu dan pengertian ke diri sendiri bahwa kita ini ya manusia di mana butuh istirahat untuk sekedar ‘nggak mikir apa-apa’
    😀

    Balas
  13. astaga, penyebabnya banyak yg pernah aku alamin. Antara lain nih. niat awal mau cari informasi tempat wisata ealah, berujung jd scroll medsos, baca berita politik, terus liat2 youtube mukbang… Tapi memang yang bikin stress adalah WA dari atasanku, langsung dag dig dug, apalagi kl WA-nya di luar jam kerja. Biasanya aku gak mau cek2 handphone kalau lg ngobrol sama teman. Selain sebagai menghargai lawan bicara, juga biar rehat sejenak sih.

    Balas
  14. Banyak yg bilang saya selalu slow respon kalau diwa
    Hihi, karena saya emang selalu mematikan notif ponsel. Jad selalu laa untuk bisa tahu ada pesan baru
    Masalahnya itu tadi saya udah gak begitu kuat mendengar notifikasi yang tidak pernah berhenti
    Mencari kewarasan diri salah satunya dengan tenang tanpa mendengar tang ting tung nya ponsel
    Hehe…

    Balas
  15. Seperti lagunya Dewa: di dalam keramaian aku masih merasa sepi….

    Di era digital kudu pinter atur waktu dan atur HP ya. Jangan sampai kena FOMO dan jadi brain rot gara2 nonton di medsos terus.

    Balas
  16. Iya banget lagi mba. Aku pun merasa multitasking itu kurang sehat terutama rawan jadi penyebab stress juga. Belum lagi notifikasi WA dan socmed dududu kayaknya semua dituntut buat fast respon, kadang kalau libur aku suka sengaja tuh matiin internet sekitar 30 menitan, itung-itung Detox sambil berusaha jalan kaki sembari berjemur tanpa pusing liat hp.

    Kalau hal FOMO sih Alhamdulillah sudah mampu menghalau. Intinya yang ku butuh harus sering Detox digital, biar nggak stress dan OVT. Makasih sudah ngingetin pentingnya jaga kesehatan mental di era serba sat-set wusssshhhh.

    Balas
  17. Kasian otak kita yaa kerja keras sepanjang waktu. Jangankan multitasking, one task aja kadang perlu pemikiran ekstra krn banyak cabang masalahnya. Thanks remindernya kak. Istirahat sebentar yuk..

    Balas
  18. Paling parah aku pernah ngalamin ini pas kuliah mba. Justru saat itu hp blm canggih. Baru ada Nokia palingan. Tp waktu itu aku belajar mati2an. Blm kenal traveling. Cuma tahu belajar, belajar belajar, demi lulus tepat waktu. Krn waktu itu memang ada target yg aku kejar.

    Tp masuk ke sem4, aku drop. Yg tadinya kalo belajar dan memahami subjek pelajaran gampang, jadi berasa susah. Baca berkali2 pun ga inget dan ga paham. Kepala sakit banget.

    Di situ baru tahu kalo aku stress berat. Dokter bilang wajib ubah caraku belajar. Kalo ga mau makin parah.

    Akhirnya aku belajar buat santai sedikit, ada me time. Refreshing Ama temen2. Jadi memang sih otak ga bisa trus2an dipaksa bekerja. Ada waktunya dia akan burnout.

    Balas
  19. Aku pernah kayak gini mbak. Rasanya mumet dan cape banget kayak habis kerja berat gitu. Padahal seharian di rumah nggak ngapa-ngapain. Dan penyebabnya semua itu aku rasain juga. Aku mulai belajar untuk jeda dan belajar melambat. Ternyata nggak harus cepat itu gapapa banget.

    Aku udah nggak multitasking lagi. Dulu juga aku merasa hebat banget rasanya, tapi ternyata itu malah bikin cape. Lihat media sosial juga yang paling terasa banget. Bentar-bentar lihat notifikasi, padahal nggak ada yang nyariin juga, wkwkwk.

    Banyaknya mendapat informasi jadi nambah beban pikiran juga, padahal bukan masalah kita, tapi berasa aku yang punya masalah jadinya 😂

    Balas
  20. Overload Informasi ini semakin hari akan terus mengejar, tanpa sadar menjadi persoalan yang kadang kita tidak ketahui, tahu-tahu kok merasa capek.

    Senang sekali dengan kalimat Saat Dunia Ngebut, Kita Perlu Berhenti Sebentar, tidak apa-apa banget kok kalau terlihat tertinggal, karena yang duluanpun belum sampai tujuan duluan.

    Karena waktu selalu punya misterinya bagi setiap insan dan hanya dia yang mengerti terbaik baik kita. Tulisannya menarik. Terima kasih sudah membuatnya.

    Balas
  21. dari satu sisi, mungkin multitasking adalah hal yang keren karena bisa menyelesaikan beberapa/banyak pekerjaan dalam satu waktu, tetapi juga di sisi lain bisa bikin badan gak nyaman, pikiran tambah ruwet terus migren deh. Cuss lah, lakukan sesuai kondisi dan kemampuan biar gak stress

    Balas
  22. Wah.. wah.. saya seperti langsung tersentak membaca ini. Saya sekarang pas bangun kok rasana cepek. padahal tidur cukup. ternyata salah satu penyebabnya saya sok multitasking. Ini saja sambil BW, sambil dengerin musik, sampai balas pesan whatsap… oh tidak.
    Dan ternyata beragam penyebab stres ya. Bahkan bisa dari hal-hal kecil yang seperti tetesan air. Untunglah saya kadang suka melakukan hal remeh temeh. misalnya iseng saja naik busway keliling jakarta. Ternyata hal ini sangat membantu juga

    Balas
  23. Iya banget nih. Aku dulu waktu anak-anak masih kecil, stresnya karena badan yang capek ngurus anak-anak dan rumah. Apalagi jika kondisi finansial sedang seret. Sekarang saat anak-anak sudah besar, kondisi finansial sudah lebih baik, tetap aja ternyata bisa stres. Dan ya, stresnya dari hal-hal yang modern kayak gini. Harus banget kayaknya detoks digital ya.

    Balas
  24. saya baru ngeh ada istilah stress modern yang mana semuanya diakibatkan dari media sosial ya salah satunya, dan saya baru ngeh syaa mengalaminya juga di bebebrapa poin di atas, multitasking dan informasiyang overloud buat saya kayaknya menjadi penyebab utama stress modern saya

    Balas
  25. Aku merasa tertohok banget sih ini. Aku banget yg niatnya cm balas pesan eh malah kemana, baca artikel lain, masuk notif lain, ujung2nya setengah jam terlewat dan berlangsung setiap hari

    Balas

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses